Minggu, 12 Juni 2011

HIDUPLAH MAHASISWA

Akhir-akhir ini mahasiswa di gunjang-gunjingkan telah hilang taringnya sebagai “agen of change” ( agen perubahan ). Untuk tujuan analitis, banyak orang yang menelaah perkembangan masyarakat modern sebagai serangkaian tahap historis. Pendekatan semacam ini memang mempunyai kegunaan tersendiri. Akan tetapi, juga memiliki bahayanya tersendiri, karena bisa terkesan sebagai pendukung teori evolusioner komunitas politik, yang memandang bahwa masyarakat berkembang secara bertahap dari keadaan primitif sampai pada tahap modern dalam demokrasi liberal saat ini.
Pembedaan antara mahasiswa biasa dengan mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik ,mahasiswa yang kritis atau biasa orang menyebutnya sebagai fungsionaris semakin mencolok. Memastikan perlindungan atas hak-hak yang universal, kebebasan berpendapat, dan bertindak menjadi hal yang patut dipertanyakan. Apakah semuanya benar tidak ada batasan yang mengikat ? tentunya masing-masing orang memiliki pendapatnya sendiri.
Perbedaan yang ada sebenarnya merupakan suatu satu kesatuan yang saling melengkapi, Apabila tidak ada yang saling membanggakan dirinya atau kelompoknya sendiri. Budaya yang ada pada mahasiswa, ditentukan bukan berdasarkan atribut-atribut individunya, melainkan berdasarkan peraturan hukum ( Peraturan dan Kebijakan ), yang berpijak pada konstitusi yang membatasi mahasiswa dalam mengembangkan potensinya.
Mahasiswa dewasa ini bersifat inklusif dan eksklusif : ia menentukan apa yang menjadi pilihan dan kebebasan kelompoknya. Ketika kita ingin melakukan suatu perubahan sudah tentu kita harus memiliki visi yang sama antara Lembaga Kemahasiswaan dan mahasiswa. Menyerukan satu suara untuk suatu kemajuan dan perubahan, dengan adanya visi (tujuan bersama) bisa kita capai dengan cara melakukan tindakan dan kata-kata.
Melakukan tindakan yang nyata kita bisa melihat dari kepemimpinan Presiden Soeharto, Sikap yang tegas dan tanggap dalam mengambil keputusan membuat Bangsa Indonesia bisa belajar dari beliau. Melakukan kata-kata, kita bisa belajar dari kepemimpinan Presiden Soekarno, Dengan kata-katanya beliau bisa mempersatukan seluruh rakyat Indonesia dalam satu kesatuan menuju visi Indonesia Merdeka. Dengan menulis, berpendapat dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan merupakan salah satu wujud kongrit dari sebuah tindakan dan kata-kata. “Kehormatan dan nama baik mahasiswa merupakan harga diri kita juga”.

Oleh :   Syamsul Bakhri
Mahasiswa Sosiologi dan Antropologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar