Jumat, 22 Juli 2011

Ironis...

     Ada-ada saja ulah mahasiswa pada waktu jam perkuliahan di kelas. Mulai dari mengobrol dengan teman ketika dosen mengajar, ber SMS-an ria, menggambar atau mencoret-coret bangku kuliah karena merasa bosan di kelas, ber-facebook-an ria, bahkan ada juga mahasiswa yang tidur ketika dosen menerangkan, atau mungkin perhatiannya tidak pada bahan ajar perkuliahan tetapi sibuk sendiri memikirkan hal-hal lainnya yang di luar bahan ajar perkuliahan dan lain sebagainya. Ya.. hal-hal tersebut memang kerap terjadi pada jam kuliah terutama jika dosen yang mengajar itu tidak dianggap killer oleh mahasiswa.
Sungguh ironis jika mengetahuinya.
















seorang mahasiswa sedang bermain facebook saat dosen menerangkan..



















    Gambar di atas memperlihatkan salah seorang mahasiswa sedang berfacebookan pada waktu dosen menerangkan di depan kelas.
      Kejadian tersebut terjadi pada waktu jam kuliah MKU Psikologi Pendidikan di gedung C1. Apakah mahasiswa tersebut tidak merasa perkewuh dengan dosen tersebut? Apalagi dia duduk di bangku paling depan, dosen juga sedang berdiri di depannya. Ketika itu ada 2 mahasiwa yang fbnan di kelas yang satu memakai laptop dan satunya notebook, mereka semua duduk di deretan bangku paling depan.
      Tim forjunis sangat sedih, ngelus dada dan menyayangkan sekali melihat kejadian yang dilakukan mahasiswa tersebut .Padahal dosen tersebut baru keluar dari RS karena serangan jantung seharusnya beliau masih harus beristirahat di rumah tetapi nyatanya dibela-belakan untuk mengajar di kelas bahkan ketika mengajar pun beliau sangat terlihat kesusahan, kami takut kalau terjadi sesuatu misalnya dosen tersebut telalu lelah.
      Ketika ditanya tim forjunis tentang tindakannya ber-fb-nan di depan dosen seperti itu, mahasiswa FBS tersebut menjawab, “ nggak apa-apa, biasa aja kug”.
      Memang banyak tindakan mahasiswa yang bisa dikatakan “aneh-aneh” atau melanggar aturan, tetapi bukankah juga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi jika ingin melakukan sesuatu. 46

Pamflet Duka Cita

   
salah satu pamflet yang terpajang di mading yang terletak di C1    
   
















    Gambar di atas merupakan pamflet yang pernah terpampang di papan pengumunan FIS, salah satunya ada di madding yang terletak di C1 sekitar bulan Juni yang lalu.
    Entah motif apa yang melatarbelakangi seseorang untuk menyebarkan pamflet yang bertuliskan “Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Gerakan LK se-Unnes, Semoga Tuhan Mengampuni dosa-dosanya.” Ataukah beredarnya pamflet tersebut merupakan sebuah ungkapan kekecewaan mahasiswa atau yang lainnya  yang menilai gerakan Lembaga Kemahasiswaan Unnes telah meninggal atau dengan kata lain LK tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Atau mungkin juga sebuah sindiran yang ditujukan bagi LK agar dapat berfungsi, berjalan secara efektif sebagai mana tugas dan wewenang yang diembannya.      
       Tim forjunis juga pernah bertanya kepada beberapa mahasiswa terkait beredarnya pamflet tersebut, tapi mereka juga tidak tahu siapa yang menempelkannya. Ketika tim forjunis mencoba untuk menelepon nomor yang tertera di pamflet pun juga tidak bisa dihubungi.
Pamflet di atas beredar setelah beberapa hari yang lalu di lingkungan FIS banyak sekali beredar pamflet-pamflet terkait permitaan agar adanya transparansi dana SPL. 46
 





Kamis, 21 Juli 2011

Putra yang Malang

    Pendidikan memang merupakan suatu hal yang sangat penting. Sudah tentu kewajiban setiap manusia untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar dapat meraih cita-citanya. Bahkan ada peribahasa tuntutlah ilmu dari negeri cina sampai liang lahat. Status sosial dewasa ini juga sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tinggkat pendidikan yang dicapai dan dimana seseorang bernaung dalam suatu lembaga baik pemerintah maupun swasta. Tuntutan inilah yang membuat semua orang mengejar pendidikan setinggi-tingginya, akan tetapi tanpa melupakan inti dari menuntut ilmu sendiri yaitu bukan hanya dapat dilakukan di dalam pendidikan formal akantetapi alam dan segala isinya ini adalah pengetahuan yang dapat dielajari.
    Tulisan ini terinspirasi dari semangat yang berkobar-kobar seorang putra berinisial ( AM ) asal Purwodadi Jawa Tengah yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi . Walaupun ia berasal dari sebuah keluarga yang kurang mampu bapaknya seorang penarik becak, akan tetapi itu bukan suatu halangan untuk mengejar cita-citanya. Singkat cerita.Pada awalnya Ia mendaftarkan dirinya sebagai calon mahasiswa disuatu perguruan tinggi negeri, melalui jalur bidik misi akan tetapi tidak diterima lantaran gagal dalam tes seleksi. Akantetapi ia tidak patah semangat, Ia mendaftarkan dirinya lagi di jalur SNMPTN dan akhirnya diterima disalah satu Perguruan Tinggi Negeri.
    Persyaratan administratif sudah tentu menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi agar menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi tersebut. Salah satunya adalah pembayaran biaya masuk kuliah ( SPL,SPP, dan BOP), yaitu Rp. 7.450.000,00 yang harus dibayarkan sebelum tanggal 12 juli 2011. Sudah tentu ia tidak sanggup kalau harus membayar sebanyak itu. Menghadap petinggi-petinggi Universitaspun ia lakukan agar mendapat keringanan atau bantuan, akan tetapi tidak mendapatkan hasil, ia hanya diberi tenggang waktu untuk melunasinya sampai tanggal 28 Juli 2011.
    Kegelisahan menyelimuti putra yang malang ini, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tingggi seakan sirna karena “mau dari mana uang sebanyak itu mas” Ujarnya. Melihat fenomena seperti ini pelayanan Pendidikan di Indonesia menjadi sesuatu yang patut di pertanyakan, apakah sudah benar-benar pro rakyat? “ setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta anak miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” itu nampaknya hanya sebuah kata-kata. Semoga pendidikan di Indonesia bisa berbenah agar lebih baik lagi dan Putra - Putri bangsa bisa memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk mengejar cita-citanya.

 oleh: Syamsul Bakhri/ mahasiswa sos-ant

Semarak FIS SMART

Warna merah menghiasi pelataran C7. Baik dosen, karyawan, mahasiswa bertumpah ruah di sana.

      Pelataran di samping C7 tidak seperti hari biasanya yang menjadi tempat parkir mobil para dosen FIS. Pada hari Jumat (24/6), lahan parkir disulap menjadi sebuah panggung yang bernuansa merah. Berdiri juga stand-stand dari LK FIS dan umum yang menawarkan berbagai karya kerajinan, sepatu dan juga makanan, minuman.
      Semarak FIS SMART dibuka oleh PR III Masrukhi ini merupakan singkatan dari F (Familiar), I (Inovatif), S (Sehat), S (Smart), M (Mandiri), A (amanat), R ( Religius) dan T (Tangguh). Semarak FIS SMART tahun ini  mengusung tema, “Hidup Selaras Dengan Alam Harmonisasi dalam Hubungan Sosial. ”Acara ini bertujuan agar warga FIS hidup selaras ramah terhadap lingkungan memberikan suasana dalam kehidupan dan tercapainya harmonisasi,” ungkap Eko Handoyo sebagai penanggung jawab serangkaian acara Semarak FIS SMART ini.
      Serangkaian acara Semarak FIS sudah dimulai sejak Kamis (9/6). Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya seminar nasional, panjat tebing sebagai inovasi baru, debat bahasa Jawa se-Unnes, tanam mangrove, FIS mencari bakat, Porsajur yang merupakan ajang perlombaan olah raga dan bazar yang berlangsung dua hari berbarengan dengan acara pembukaan Semarak FIS SMART. “Tahun ini lebih meriah karena ada doorprize seperti laptop, tv, setrika, dll,” terang Riki Kurniawan selaku ketua panitia.
       Lebih lanjut Riki menerangkan, kepanitian pelaksanaan Semarak FIS SMART berbeda dengan tahun lalu yang hanya berasal dari BEM. Namun tahun ini kepanitian meliputi perwakilan dari semua jurusan dan semua Lembaga Kemahasiswaan (LK) di FIS. “Semarak FIS SMART bukan hanya agenda BEM FIS semata tapi untuk seluruh masyarakat FIS,” lanjutnya menambahkan.
       Soleh selaku ketua panitia dari keseluruhan acara ini mengungkapkan bahwa program ini  memperkuat Unnes menjadi Universitas Konservasi serta bertujuan untuk menjalin harmonisasi antar civitas akademika dengan warga kampus dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan.
      Andre mahasiswa Pendidikan Sejarah 2010 memberi tangapan mengenai acara ini. “Acara ini cukup baik, semoga ke depannya dapat meriah lagi,” ungkapnya.
      Dari kalangan dosen juga menilai acara Semarak FIS SMART pada tahun ini cukup bagus, mengalami perubahan., ”Terutama perubahan waktu, biasanya akhir bulan Mei. Karena di bulan ini bersamaan dengan acara di fakultas-fakultas lain. Selain itu juga banyak stand dan kegiatan,” ungkap dosen Hkn Puji Lestari, ketika ditemui di pelataran samping C7.
       Lebih lanjut Riki, kendala yang dihadapi oleh panitia dalam acara Semarak FIS SMART kali ini juga masih dirasakan oleh panitia. Hal ini dikarenakan struktur kepanitiannya berbeda dengan tahun lalu yang diambil dari seluruh jurusan dan LK. Mereka mempunyai tanggung jawab lain di luar acara Semarak FIS SMART. Untuk mengatasi kendala tersebut kita lebih mendekatkan diri secara personal, saling memahami. Memberikan masukan-masukan akan pentingnya acara ini.Tina, Erwin, Yani, Novilla.

Mahasiswa.....

Oleh:Muhammad Haekal


MAHASISWA?
Hanya itukah ilmumu?
Belajar untuk melempar batu
Ditengah jembatan kau adu uratmu
Sesama saudara membunuh tanpa malu

Hanya itukah ilmumu?
Meneriakkan kata setia dengan jiwa
Namun melepasnya dalam sekejap mata
Dan lihatlah pendahulumu di'98
Mereka berdarah...berkorban
Tumbangkan rezim tegakkan reformasi

Dan lihat dirimu
Yang darahnya tertumpah sia-sia
Tanpa guna suatu apa...
Hanya derita dan jerit tanpa nyawa

Hai kau disana!!
Masihkah kau mengaku mahasiswa?!

Selasa, 19 Juli 2011

Bangun Keakraban Bareng Warga Sekaran

    Gugus Latih Ilmu Sosial mengadakan acara bakti lingkungan yang bertemakan “Bersih Desa Bersama Warga Sekaran dan Civitas Akademika FIS”, Minggu(26/6). Acara ini merupakan serangkaian acara Semarak FIS SMART. Noorochmat Isdaryanto selaku pembina pramuka FIS mengungkapkan bahwa program ini bertujuan agar warga FIS peduli terhadap lingkungan dan terjalin keakraban antara Civitas Akademika FIS dengan warga Sekaran.
   Rangkaian acara dibuka dengan penabuhan kentongan dan sambutan oleh Dekan FIS Subagyo, kemudian acara dilanjutkan dengan bersih-bersih desa. Peserta terdiri dari para pejabat FIS, lembaga kemahasiswan FIS, dan penerima beasiswa bidik misi serta tamu undangan dari guslat  lain yang dibagi menjadi dua tempat yaitu di Banaran dan Cempaka.
   “Dengan diadakan acara ini diharapkan dapat mempererat kerjasama antara Civitas Akademika FIS dengan Warga Sekaran dan dapat mengharmonisasikan serta menyeleraskan hubungan sosial masyarakat. Walaupun peserta tidak sesuai target namun acara ini dapat berjalan dengan lancar,” tutur Samsul Arifin selaku ketua panitia.Tina

Rabu, 13 Juli 2011

GERAKAN MORAL ANTI MONYONTEK

Ujian akhir semester  telah berlangsung sejak hari selasa, 12 juli 2011 dilingkungan Fakultas Ilmu Sosial. Hal ini merupakan momen puncak perjuangan setelah satu semester melakukan kegiatan perkuliahan. Banyak rutinitas yang dilakukan mahasiswa menjelang ujian akhir semesteran ini.  Baik belajar semalam suntuk atau pun berdoa agar nilai ujianya dapat maksimal.
Rutinnitas yang cukup berbeda terjadi di Jurusan HKn. Tatkala mahasiswa masuk keruangan kelas untuk mengikuti ujian akhir semester, mahasiswa langsung disambut dengan sepandu “GERAKAN MAHASISWA ANTI MENCONTEK’. Dimana sepanduk itu terletak didepan kelas setiap ruang ujian Jurusan HKn. Pembuatan sepanduk ini diprakarsai oleh Mahasiswa semester 4 dan 6 Jurusan HKn yang menempuh mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi.
Pemasangan sepanduk itu dilakukan atas kesadaran mahasiswa HKn.  Mereka sadar akan pentingnya meningkatkan moral pada setiap mahasiswa agar tidak lagi memiliki perilaku yang korupsi (menyontek).  Diharapkan dengan adanya pemasangan sepanduk ini dapat menmberi kesadaran pada maha siswa agar bersikap jujur dalam ujian  yakni dengan tidak mencontek diwaktu ujian. Penanganan perilaku korusi harus ditekankan sedini mungkin agar tidak menjadi sebuah kebiasaan.
Walaupun ada beberapa mahasiswa yang tidak menghiraukan akan isi tulisan yang terdapat dalam sepanduk tersebut, setidaknya ini merupakan bentuk konkret untuk mengajak mahasiswa berbuat jujur dan tidak sekedar omongan yang tidak ada tindak lanjut. Hal ini perlu kita apresiasi dan lestarikan agar kesadaran mahasiswa akan pentingnya berbuat jujur akan timbul. Tidak hanya menempuh jalan pintas saat ujian.

Slamet