Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengamanatkan bahwa salah satu inti tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini berarti bahwa setiap warga negara berhak untuk hidup cerdas. Karenanya, pemerintah berkewajiban untuk membebaskan warga negaranya dari kebodohan dan keterbelakangan, sekaligus juga berkewajiban menjamin dan menyediakan sarana dan prasarana untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Hasil tes Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2003, misalnya, memperlihatkan bahwa Indonesia jauh tertinggal oleh negara tetangga. Indonesia hanya menempati urutan ke-34 (matematika) dan ke-36 (sains) dari 45 negara yang disurvei. ‘Prestasi’ itu jauh di bawah Singapura yang menduduki peringkat pertama untuk kedua bidang ilmu ini, atau Malaysia yang berada di peringkat 10 (matematika) dan 20 (sains).
Lebih jauh lagi, akar dari tidak favoritnya profesi guru adalah karena gaji dan tingkat kesejahteraan guru yang rendah. Banyak guru-guru di negeri ini, terutama swasta, yang harus hidup amat sederhana. Hanya mereka yang pandai ngobyek saja yang mampu sejajar dengan orang-orang berprofesi lain. Nasib guru kita sangat berbeda dengan guru di negara lain. Di Jepang, hampir semua guru bisa memiliki mobil dengan gajinya. Seorang guru muda SD atau SMP saja dengan masa dinas baru 2 tahun, bisa mendapatkan gaji 156,500 yen (Rp 11,783,667) per bulan. Itu belum termasuk penghasilan lain seperti extra salary, bonus 2 kali setahun dan bonus tambahan lain yang tidak berlaku secara nasional. Apalagi jika dia seorang guru SMA atau dosen. Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita? Sistem yang menjalankannya ataukah pelaku pendidikannya?
Hasil tes Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2003, misalnya, memperlihatkan bahwa Indonesia jauh tertinggal oleh negara tetangga. Indonesia hanya menempati urutan ke-34 (matematika) dan ke-36 (sains) dari 45 negara yang disurvei. ‘Prestasi’ itu jauh di bawah Singapura yang menduduki peringkat pertama untuk kedua bidang ilmu ini, atau Malaysia yang berada di peringkat 10 (matematika) dan 20 (sains).
Lebih jauh lagi, akar dari tidak favoritnya profesi guru adalah karena gaji dan tingkat kesejahteraan guru yang rendah. Banyak guru-guru di negeri ini, terutama swasta, yang harus hidup amat sederhana. Hanya mereka yang pandai ngobyek saja yang mampu sejajar dengan orang-orang berprofesi lain. Nasib guru kita sangat berbeda dengan guru di negara lain. Di Jepang, hampir semua guru bisa memiliki mobil dengan gajinya. Seorang guru muda SD atau SMP saja dengan masa dinas baru 2 tahun, bisa mendapatkan gaji 156,500 yen (Rp 11,783,667) per bulan. Itu belum termasuk penghasilan lain seperti extra salary, bonus 2 kali setahun dan bonus tambahan lain yang tidak berlaku secara nasional. Apalagi jika dia seorang guru SMA atau dosen. Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita? Sistem yang menjalankannya ataukah pelaku pendidikannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar