Senin, 31 Oktober 2011

MAU DIBAWA KEMANA????

   Gejolak wacana penggabungan HKn ke FH kembali berdendang di kalangan mahasiswa HKn khususnya semester lima pada waktu kuliah Seminar PKn, Jumat (21/10). Mata kuliah seminar PKn merupakan salah satu mata kuliah wajib di HKn yang pada Jumat sore kegiatan kuliah diisi dengan acara diskusi. Diskusi dipimpin oleh Wigiyati dan Anton dengan mengambil tema “Penggabungan HKn ke FH” yang bertempat di gedung C4 328.
      Diskusi tersebut diikuti sebanyak 47 peserta kuliah yang diawasi oleh Nurrochmat Isdaryanto, selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar PKn. “Diskusi ini bertujuan untuk mengajarkan diskusi yang baik dalam rangka kegiatan ilmiah dengan menghadirkan permasalahan yang riil sehingga pendapat peserta berasal dari suara yang nyata”, ungkap Nurrochmat.
       Diskusi berjalan sangat seru karena ada sebagian mahasiswa yang pro dan banyak juga yang kontra atas tema yang didiskusikan. Sebagian besar peserta yang berdiskusi menyatakan tidak setuju jika HKn pindah ke FH, seperti yang diutarakan Riza, ia menjelaskan bahwa jika nanti HKn bergabung ke FH bagaimana nasib kita kedepannya, bagaimana peluang kerja mahasiswa PPKn yang lulus dari Fakultas Hukum. “Apalagi secara historis Hukum merupakan anak dari HKn, jadi saya tidak setuju jika Hkn gabung ke FH”, tambahnya. Novilla

Minggu, 16 Oktober 2011

Bilingual sosant

Pelopor kelas bilingual di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial

     Jurusan Sosiologi Antropologi FIS Unnes telah membuka kelas baru yaitu kelas bilingual mulai tahun ajaran 2011/2012 sebanyak 25 mahasiswa yang tergabung dalam 1 rombel. Seperti yang dikemukakan Mustafa, selaku Ketua Jurusan Sosant bahwa dibukanya kelas ini dilatarbelakangi antara lain karena mendapat amanat dari lembaga bahwa setiap fakultas harus ada kelas bilingual, dan juga karena dosen di Sosant juga mendukung maka dibuka kelas ini. Selain itu karena adanya kebutuhan mahasiswa untuk ikut bekerja di lembaga-lembaga yang menerapkan bilingual, seperti SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).
     “Seleksi masuk ke dalam kelas bilingual ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru jurusan Sosiologi Antropologi yang  terdiri dari dua tahap tes seleksi yaitu tes tertulis dan wawancara dalam bahasa Inggris dan diselenggarakan di C2, Selasa (16/8), ungkap Anis.
untuk nama mahasiswa bilingual sosant dapat dilihat di web fis.


Selasa, 23 Agustus 2011

Bangun Cendekiawan Berkarakter melalui OKPT

       GUGUSLATIH Ilmu Sosial akan menyelenggarakan kegiatan Orientasi Kepramukaan Perguruan Tinggi (OKPT) 2011 yang bertemakan “Cendekiawan Berkarakter Itulah Pramuka”, Minggu-Senin (21-22/8).
Gerakan pramuka sebagai wadah atau organisasi bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta sehat jasmani dan rohani sehingga menjadi warga Negara Indonesia yang berjiwa Pancasila yang mampu dan sanggup menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara.
       Tresno adi selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa tujuan dari kegiatan ini yaitu Memberikan pengetahuan dan informasi tentang Pramuka di perguruan tinggi Universitas Negeri Semarang pada umumnya dan Fakultas Ilmu Sosial pada khususnya dan mengembangkan potensi, bakat dan minat kepramukaan peserta OKPT Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang serta dapat Mengembangkan kepramukaan di tingkat Fakultas Ilmu Sosial  Universitas Negeri Semarang.
      “Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memantapkan kader pramuka kreatif sebagai potensi bangsa serta dapat merintis sikap hidup yang ramah lingkungan,bersahaja dan berkarakter”tambah Tresno.Tina



Humor Politik

Dosen yang Juga Menjadi Pejabat

Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang :

Tono : "Saya heran dosen itu, kalau ngajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri."
Udin : "Ah, gitu aja diperhatiin sih Ton."
Tono : "Ya, Udin tahu ngak sebabnya."
Udin : "Barangkali aja, cape, atau kakinya gak kuat berdiri."
Tono : "Bukan itu sebabnya Din, sebab dia juga seorang pejabat."
Udin : "Loh, apa hubungannya?!!"
Tono : "Ya kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain."
Udin : "???"

Arti Demokrasi

Cecep bertanya kepada Bapaknya arti dari Demokrasi. Bapaknya kemudian menjelaskan bahwa demokrasi itu bisa diibaratkan dalam Rumah Tangga. Bapak bertindak sebagai kaum Kapitalis yang mencari nafkah, Ibu sebagai Pemerintah yang mengelola hasil, Cecep sebagai rakyat, adiknya sebagai masa depan yang perlu diperhatikkan dan pembantu sebagai pekerja.
Suatu ketika Cecep pulang ke rumah dan mendapati adiknya sedang buang air besar di lantai. Dilihatnya Ibunya sedang tidur lelap. Cecep kemudian ke kamar pembantunya untuk minta tolong. Tetapi ternyata ia mendapati Bapaknya sedang tidur bersama pembantunya itu.
Cecep lalu mengatakan kepada Sang Bapak:
“Pak! sekarang saya sudah tau arti Demokrasi, yaitu kaum Kapitalis “menekan” para pekerja, pemerintah tertidur lelap, rakyat tidak berani membangunkan, hanya bisa melihat masa depan yang penuh dengan kekotoran…”

Sumber: http://ketawa.com/humor-lucu-cat-5-humor_politik
   

Kampus Merah

       Kampus merah merupakan sebuah acara bakti sosial yang diselenggarakan oleh BEM FIS pada hari Sabtu (20/8). Eka Sakti, selaku salah satu panitia menjelaskan bahwa tujuan dari acara kampus merah yaitu untuk mempererat kekeluargaan, memberikan sosialisasi kesehatan kepada masyarakat, menciptakan mahasiswa yang peka lingkungan.
       Peserta acara kampus merah kali ini berasal dari seluruh mahasiswa baru FIS 2011. Fitriani, mahasiswa pendidikan geografi mengungkapkan bahwa ia merasa tertarik untuk mengikuti acara kampus merah kali ini walaupun ia  merasa letih setelah seharian mengikuti acara PPA. “Acaranya menyenangkan, apalagi ada pesta kembang apinya”, tambahnya.
        Acara kampus merah ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir ini. Bentuk kegiatannya berbagai macam seperti bersih lingkungan, bakti sosial, sosialisasi kesehatan, memberikan abate kepada masyarakat. Lokasi dari acara kampus merah tersebar di sekitar lingkungan Unnes, seperti Banaran, gang Setanjung, gang Waru, gang Cempaka, gang Winong, dan depan gerbang Unnes.  Peserta yang terdiri dari mahasiswa baru akan di bagi ke dalam beberapa lokasi tersebut.
       Acara dilanjutkan dengan buka bersama dan pesta kembang api di lapangan samping PKM FIS. Novilla


Skripsi Online

      Sistem skripsi online bagi para mahasiswa tingkat akhir mulai diterapkan pada pada bulan Agustus 2011 dengan menunggu launching dari rektor.  Namun semua jurusan sudah mempersiapkan skripsi online secara serentak.
     Eko Handoyo, selaku Pembantu Dekan bidang akademik menerangkan bahwa skripsi online merupakan skripsi yang berbasis online. Sistem ini muncul karena skripsi secara manual dirasa kurang baik.
     Dalam sistem online akan dicatat seberapa besar aktifitas mahasiswa, mulai dari bimbingan sampai ujian akhir. Walaupun bimbingan skripsi dilakukan secara online, tetapi mahasiswa juga melakukan kontak langsung dengan dosen pembimbingnya. Sebagai bukti telah melakukan bimbingan online, mahasiswa harus menghubungi jurusan untuk mencetak surat tanda bukti bimbingan.
     “Untuk bisa mengikuti ujian akhir, minimal 8 kali bimbingan. Dalam sistem online mahasiswa bisa membuka melalui internet. Panduan-panduan skripsi juga sudah secara jelas tertera,” tutur Eko Handoyo.
      Salah satu mahasiswa tingkat akhir memberikan tanggapan yang sangat baik, dengan sistem skripsi online akan memberikan kemudahan bagi mereka untuk memperlancar penyelesaian skripsi.
      “Sistem ini harus dilaksanakan sebaik-baiknya,  harus  intensif  dan juga harus sering bertanya-tanya  dengan dosen pembimbing,” terang Eko Handoyo. Salis, itoh

Training of trainer

        Kegiatan Training Of Trainer (TOT) diselenggarakan oleh BEM FIS pada tanggal 23-24 Juli 2011 yang bertempat di gedung C1 106. Eka Setyawati selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya TOT yaitu untuk pengembangan diri, memotivasi diri dan orang lain, membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah, menjadi pemimpin yang baik, dilatih menjadi pelatih yang baik.
        Kegiatan Training Of Trainer kali ini bertemakan “Membangun kualitas pribadi seorang pemimpin untuk lingkungan sosial”, yang diikuti oleh 34 peserta yang terdiri dari perwakilan dari lembaga kemahasiswaan di FIS, anggota BEM FIS dan forjunis.
        Kegiatan TOT berlangsung selama dua hari untuk kelas pemberian materi dan kegiatan outbond untuk penerapan dari teori atau materi yang telah disampaikan.
      Winda, mahasiswa jurusan geografi memberi tanggapan tentang berlangsungnya kegiatan TOT bahwa adanya pelatihan TOT itu penting dan menarik, jiwa kepemimpinan benar-benar dimatangkan, penyampaian materinya juga komunikatif, santai dan tidak monoton. “Apalagi TOT ini tidak sebatas pemberian materi, tetapi juga ada pengaplikasiannya melalui kegiatan outbond sehingga benar-benar terasa ‘pelatihannya’.” Novilla

“Prestasi” Indonesia

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengamanatkan bahwa salah satu inti tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini berarti bahwa setiap warga negara berhak untuk hidup cerdas. Karenanya, pemerintah berkewajiban untuk membebaskan warga negaranya dari kebodohan dan keterbelakangan, sekaligus juga berkewajiban menjamin dan menyediakan sarana dan prasarana untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Hasil tes Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2003, misalnya, memperlihatkan bahwa Indonesia jauh tertinggal oleh negara tetangga. Indonesia hanya menempati urutan ke-34 (matematika) dan ke-36 (sains) dari 45 negara yang disurvei. ‘Prestasi’ itu jauh di bawah Singapura yang menduduki peringkat pertama untuk kedua bidang ilmu ini, atau Malaysia yang berada di peringkat 10 (matematika) dan 20 (sains).
Lebih jauh lagi, akar dari tidak favoritnya profesi guru adalah karena gaji dan tingkat kesejahteraan guru yang rendah. Banyak guru-guru di negeri ini, terutama swasta, yang harus hidup amat sederhana. Hanya mereka yang pandai ngobyek saja yang mampu sejajar dengan orang-orang berprofesi lain. Nasib guru kita sangat berbeda dengan guru di negara lain. Di Jepang, hampir semua guru bisa memiliki mobil dengan gajinya. Seorang guru muda SD atau SMP saja dengan masa dinas baru 2 tahun, bisa mendapatkan gaji 156,500 yen (Rp 11,783,667) per bulan. Itu belum termasuk penghasilan lain seperti extra salary, bonus 2 kali setahun dan bonus tambahan lain yang tidak berlaku secara nasional. Apalagi jika dia seorang guru SMA atau dosen. Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita? Sistem yang menjalankannya ataukah pelaku pendidikannya?

UPACARA HUT RI KE-66

      Upacara memperingati HUT RI ke-66 pada tanggal 17 Agustus 2011 dilaksanakan di lapangan FIK Unnes. Lapangan FIK didominasi oleh warna hitam putih daripada warna almamater kebanggaan Unnes karena upacara tersebut banyak diikuti oleh mahasiswa baru angkatan 2011.
     Upacara memperingati kemerdekaan RI diwarnai dengan banyaknya mahasiswa baru yang kelelahan dan jatuh pingsan. Hal ini dikarenakan cuaca yang terik sekaligus bertepatan dengan puasa di bulan Ramadhan. Mahasiswa diwajibkan untuk berjalan kaki dari arah BNI menuju FIK sedangkan yang membawa kendaraan bermotor harus diparkir di sebelah utara BNI atau sebelah barat gedung C7 FIS.  “Wah capek sekali, kaki saya lecet-lecet karena jalannya terlalu jauh,”ungkap salah seorang mahasiswa baru.
     Proklamasi kemerdekaan yang bertemakan“Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN” ini dihadiri oleh para petinggi Unnes, dosen dan staf Unnes, mahasiswa penerima beasiswa, serta serta seluruh mahasiswa baru Unnes angkatan 2011/2012. Namun pada upacara kali ini sebagian besar terdiri dari mahasiswa baru,sedangkan tidak semua mahasiswa penerima beasiswa dapat hadir di upacara tersebut.
      Menanggapi masalah mahasiswa yang hadir mengikuti upacara memperingati hari besar, Supari, selaku pegawai tata usaha FIS menerangkan bahwa untuk mahasiswa umum sudah ada pemberitahuan untuk wajib hadir ketika ada upacara peringatan hari besar. Namun nyatanya perintah itu tidak diindahkan oleh mahasiswa, sehingga dalam pemberitahuan tersebut ditambahkan informasi bagi penerima beasiswa juga wajib hadir dalam upacara peringatan hari besar. “Mahasiswa penerima beasiswa saja masih ada yang tidak hadir sehingga nantinya kalau mau perpanjang beasiswa akan sulit, apalagi mahasiswa umum yang tidak punya tanggungan,” tambahnya. erwin, novilla


Moch Galih Pratama

Ketua Panitia PPA 2011/2012 dari mahasiswa FIS
          Moch Galih Pratama, mahasiswa prodi pendidikan Sosiologi-Antropologi semester lima merupakan sosok ketua panitia Program Pengenalan Akademik 2011 atau yang biasa dikenal dengan PPA untuk tahun ajaran 2011-2012. Salah satu fungsionaris BEM FIS dari departemen C yang menangani bidang advokasi dan kesejahteraan itu, lahir di Banjarnegara 6 Mei 1991. Sosok yang terkenal gokil di kalangan teman-teman mahasiswa ini mempunyai hobby travelling.
          Pengalaman organisasi yang pernah diikuti oleh Galih Pratama yaitu MPK pada waktu SMA dan BEM FIS di Unnes. Sekarang ini Galih bertugas sebagai Penanggungjawab Sementara (PJS) BEM FIS selama ketua BEM FIS, Riki Kurniawan PPL di Magelang.
         Sedikit menyingkap riwayat pendidikannya, Galih pernah bersekolah di SD Negeri 05 Krandegan, SMP Negeri 1 Banjarnegara serta SMA Negeri 1 Bawang. Menanggapi tentang PPA tahun ini dia menuturkan bahwa tujuan dari pelaksanaan PPA ini di harapkan nantinya mahasiswa baru bisa dan siap menghadapi kehidupan kampus dan menciptakan mahasiswa-mahasiswa berkarakter dan mempunyai idealisme yang baik sesuai dengan slogan FIS SMART, yang merupakan kepanjangan dari F (Familiar), I (Inovatif), S (Sehat), S (Smart), M (Mandiri), A (Amanat), R ( Religius) dan T (Tangguh).
         Motivasi untuk mahasiswa baru di PPA 2011 “Siapkanlah dirimu hari ini untuk hari kedepan, dan jadikan pengalaman sebagai guru terbaikmu.” bety


Penghargaan Semu Mahasiswa Agent Sosial Of Change (Mahasiswa Instant)

oleh : Muh Adi Sudiarto*

      Membicarakan sosok mahasiswa, tentu saja kita sedang membicarakan sosok yang sangat heterogen. Oleh karenanya tidak bisa disamaratakan. Ketika menyebut mahasiswa, asosiasi yang muncul adalah agent social of change, padahal dalam kenyataannya belum tentu demikian. Hal ini bisa di pahami pasalnya ketika jatuhnya rezim orde baru tidak luput dari peran mahasiswa di dalamnya, sehingga timbul image yang positif di kalangan masyarakat pada umumnya. Betapa tidak, masyarakat yang dulunya di bungkam dengan kepemimpinan yang otoriter kini dengan bebasnya dapat menyalurkan aspirasinya dengan leluasa. Hal itu terbukti dengan adanya kebebasan pers dalam pemberitaan, baik dalam media cetak maupun elektronik.
         Tanpa disadari peran mahasiswa yang menyandang status sebagai agent social of change mengalami tumpang tindih, pasalnya siswa SMA yang lulus dan masuk ke dunia perguruan tinggi, secara tidak langsung menyandang predikat baru sebagai mahasiswa agent social of change. Suatu predikat yang instant dalam memperolehnya. Siswa yang baru masuk dalam kancah perguruan tinggi dengan pola pikir yang demikian dituntut dengan tugas yang besar sebagai agen perubahan.
       Perolehan predikat yang instant tersebut membawa pola pikir yang instant pula dalam keberlanjutannya. Hal tersebut dapat di lihat dari kegiatan mahasiswa sekarang yang serba instant, mulai dari mengerjakan tugas (copy paste), budaya 3K (kos, kampus, kantin), apatisme di kalangan mahasiswa, bahkan yang lebih tragis lagi adalah budaya plagiat (meniru) di kalangan mahasiswa. Padahal kita tahu, mahasiswa pun memiliki kewajiban dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus di junjung tinggi.
        Berdasarkan realita yang ada, masih pantaskah mahasiswa sekarang menyandang status sebagai agent social of change? Adakah pembedaan status mahasiswa sebagai agent social of change? Sebuah pertanyaan besar yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi bersama.

*Mahasiswa Sejarah 09

Inisiasi di sela-sela kegiatan PPA FIS

       Pada hari pertama kegiatan PPA berlangsung, Kamis(18/8), dari panitia PPA FIS 2011 menyisipkan sebuah kegiatan inisiasi atau refleksi kebangsaan dalam kegiatan PPA 2011. Moch Galih Pratama menjelaskan bahwa tujuan diadakannya inisiasi antara lain agar mahasiswa baru lebih memiliki kematangan, kesiapan mental, menggugah kesadaran mahasiswa baru agar lebih siap menjalani kehidupan kampus.
      Sebanyak 833 mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes mengikuti Program Pengenalan Akademik (PPA) tahun ajaran 2011/2012. Kegiatan PPA tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Perbedaan ini nampak pada penempatan berlangsungnya kegiatan PPA yang dibagi dalam tiga ruangan. Jurusan Geografi dan Sosiologi-Antropologi bertempat di gedung C7 lantai 3, Jurusan Sejarah bertempat di gedung C5 301, sedangkan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan bertempat di gedung C1 103.
      Serangkaian kegiatan PPA telah berlangsung pada Selasa (16/08) dengan agenda technical meeting yang dilaksanakan di gedung C7 lantai 3. Mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di lapangan FIK yang selanjutnya di kumpulkan di masing-masing fakultas. Kegiatan PPA di FIS dilanjutkan dengan agenda perkenalan dan penelusuran bakat minat yang sebelumnya dibuka dengan sambutan dari Pembantu Dekan bidang akademik, Eko Handoyo selaku penanggungjawab PPA.
       Kegiatan PPA yang bertemakan “Membangun Generasi Berprestasi dan Berkarakter Berbasis Nilai Konservasi” ini dibuka secara resmi oleh Dekan FIS, Subagyo pada Kamis (18/08).
       Mahasiswa baru diberi info tentang universitas dan fakultas yang terbagi menjadi dua materi. Materi pertama tentang konservasi, ideologi, dan pendidikan karakter oleh tim konservasi. Materi kedua berisi tentang materi akademik fakultas dan sikadu.
        Kegiatan PPA pada hari Jumat (19/08) berisi materi tentang pengenalan organisasi dan simawa, bimbingan konseling, dan pengisian KRS di masing-masing jurusan. Sejumlah mahasiswa baru mengaku kebingungan pada waktu pengisian KRS. Hal tersebut juga dialami oleh Siti Rofidah, mahasiswa pendidikan geografi, dia mengaku kebingungan dengan pengisian KRS selain itu juga harus mengantri lama. Riko, salah satu pendamping mahasiswa geografi, mengaku merasa kasihan dengan mahasiswa baru. “Dari sikadunya enggak beres, aksesnya juga agak susah apalagi untuk MKU Pengantar Ilmu Pendidikan yang harus diambil mahasiswa sudah penuh.
      Ada peraturan dalam Kegiatan PPA kali ini bahwa lagu yang boleh dinyayikan yaitu Mars Unnes dan Hymne Unnes. Galih menjelaskan walaupun demikian, mars mahasiwa tetap dinyanyikan di PPA karena merupakan jati diri mahasiswa agar mereka bangga dan lebih semangat menjadi mahasiswa. Begitu pula dengan yel-yel yaitu Unnes Sutera, Salam Konservasi, FIS:SMART.
      “Kepada mahasiswa baru agar tetap semangat, dan menjadikan PPA kali ini sebagai sebuah media untuk kita menjadi mahasiswa yang mampu bersaing dan memiliki jiwa yang bersemangat tinggi untuk terus maju,” tambahnya. eka, novilla

Jumat, 22 Juli 2011

Ironis...

     Ada-ada saja ulah mahasiswa pada waktu jam perkuliahan di kelas. Mulai dari mengobrol dengan teman ketika dosen mengajar, ber SMS-an ria, menggambar atau mencoret-coret bangku kuliah karena merasa bosan di kelas, ber-facebook-an ria, bahkan ada juga mahasiswa yang tidur ketika dosen menerangkan, atau mungkin perhatiannya tidak pada bahan ajar perkuliahan tetapi sibuk sendiri memikirkan hal-hal lainnya yang di luar bahan ajar perkuliahan dan lain sebagainya. Ya.. hal-hal tersebut memang kerap terjadi pada jam kuliah terutama jika dosen yang mengajar itu tidak dianggap killer oleh mahasiswa.
Sungguh ironis jika mengetahuinya.
















seorang mahasiswa sedang bermain facebook saat dosen menerangkan..



















    Gambar di atas memperlihatkan salah seorang mahasiswa sedang berfacebookan pada waktu dosen menerangkan di depan kelas.
      Kejadian tersebut terjadi pada waktu jam kuliah MKU Psikologi Pendidikan di gedung C1. Apakah mahasiswa tersebut tidak merasa perkewuh dengan dosen tersebut? Apalagi dia duduk di bangku paling depan, dosen juga sedang berdiri di depannya. Ketika itu ada 2 mahasiwa yang fbnan di kelas yang satu memakai laptop dan satunya notebook, mereka semua duduk di deretan bangku paling depan.
      Tim forjunis sangat sedih, ngelus dada dan menyayangkan sekali melihat kejadian yang dilakukan mahasiswa tersebut .Padahal dosen tersebut baru keluar dari RS karena serangan jantung seharusnya beliau masih harus beristirahat di rumah tetapi nyatanya dibela-belakan untuk mengajar di kelas bahkan ketika mengajar pun beliau sangat terlihat kesusahan, kami takut kalau terjadi sesuatu misalnya dosen tersebut telalu lelah.
      Ketika ditanya tim forjunis tentang tindakannya ber-fb-nan di depan dosen seperti itu, mahasiswa FBS tersebut menjawab, “ nggak apa-apa, biasa aja kug”.
      Memang banyak tindakan mahasiswa yang bisa dikatakan “aneh-aneh” atau melanggar aturan, tetapi bukankah juga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi jika ingin melakukan sesuatu. 46

Pamflet Duka Cita

   
salah satu pamflet yang terpajang di mading yang terletak di C1    
   
















    Gambar di atas merupakan pamflet yang pernah terpampang di papan pengumunan FIS, salah satunya ada di madding yang terletak di C1 sekitar bulan Juni yang lalu.
    Entah motif apa yang melatarbelakangi seseorang untuk menyebarkan pamflet yang bertuliskan “Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Gerakan LK se-Unnes, Semoga Tuhan Mengampuni dosa-dosanya.” Ataukah beredarnya pamflet tersebut merupakan sebuah ungkapan kekecewaan mahasiswa atau yang lainnya  yang menilai gerakan Lembaga Kemahasiswaan Unnes telah meninggal atau dengan kata lain LK tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Atau mungkin juga sebuah sindiran yang ditujukan bagi LK agar dapat berfungsi, berjalan secara efektif sebagai mana tugas dan wewenang yang diembannya.      
       Tim forjunis juga pernah bertanya kepada beberapa mahasiswa terkait beredarnya pamflet tersebut, tapi mereka juga tidak tahu siapa yang menempelkannya. Ketika tim forjunis mencoba untuk menelepon nomor yang tertera di pamflet pun juga tidak bisa dihubungi.
Pamflet di atas beredar setelah beberapa hari yang lalu di lingkungan FIS banyak sekali beredar pamflet-pamflet terkait permitaan agar adanya transparansi dana SPL. 46
 





Kamis, 21 Juli 2011

Putra yang Malang

    Pendidikan memang merupakan suatu hal yang sangat penting. Sudah tentu kewajiban setiap manusia untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar dapat meraih cita-citanya. Bahkan ada peribahasa tuntutlah ilmu dari negeri cina sampai liang lahat. Status sosial dewasa ini juga sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tinggkat pendidikan yang dicapai dan dimana seseorang bernaung dalam suatu lembaga baik pemerintah maupun swasta. Tuntutan inilah yang membuat semua orang mengejar pendidikan setinggi-tingginya, akan tetapi tanpa melupakan inti dari menuntut ilmu sendiri yaitu bukan hanya dapat dilakukan di dalam pendidikan formal akantetapi alam dan segala isinya ini adalah pengetahuan yang dapat dielajari.
    Tulisan ini terinspirasi dari semangat yang berkobar-kobar seorang putra berinisial ( AM ) asal Purwodadi Jawa Tengah yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi . Walaupun ia berasal dari sebuah keluarga yang kurang mampu bapaknya seorang penarik becak, akan tetapi itu bukan suatu halangan untuk mengejar cita-citanya. Singkat cerita.Pada awalnya Ia mendaftarkan dirinya sebagai calon mahasiswa disuatu perguruan tinggi negeri, melalui jalur bidik misi akan tetapi tidak diterima lantaran gagal dalam tes seleksi. Akantetapi ia tidak patah semangat, Ia mendaftarkan dirinya lagi di jalur SNMPTN dan akhirnya diterima disalah satu Perguruan Tinggi Negeri.
    Persyaratan administratif sudah tentu menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi agar menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi tersebut. Salah satunya adalah pembayaran biaya masuk kuliah ( SPL,SPP, dan BOP), yaitu Rp. 7.450.000,00 yang harus dibayarkan sebelum tanggal 12 juli 2011. Sudah tentu ia tidak sanggup kalau harus membayar sebanyak itu. Menghadap petinggi-petinggi Universitaspun ia lakukan agar mendapat keringanan atau bantuan, akan tetapi tidak mendapatkan hasil, ia hanya diberi tenggang waktu untuk melunasinya sampai tanggal 28 Juli 2011.
    Kegelisahan menyelimuti putra yang malang ini, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tingggi seakan sirna karena “mau dari mana uang sebanyak itu mas” Ujarnya. Melihat fenomena seperti ini pelayanan Pendidikan di Indonesia menjadi sesuatu yang patut di pertanyakan, apakah sudah benar-benar pro rakyat? “ setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta anak miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” itu nampaknya hanya sebuah kata-kata. Semoga pendidikan di Indonesia bisa berbenah agar lebih baik lagi dan Putra - Putri bangsa bisa memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk mengejar cita-citanya.

 oleh: Syamsul Bakhri/ mahasiswa sos-ant

Semarak FIS SMART

Warna merah menghiasi pelataran C7. Baik dosen, karyawan, mahasiswa bertumpah ruah di sana.

      Pelataran di samping C7 tidak seperti hari biasanya yang menjadi tempat parkir mobil para dosen FIS. Pada hari Jumat (24/6), lahan parkir disulap menjadi sebuah panggung yang bernuansa merah. Berdiri juga stand-stand dari LK FIS dan umum yang menawarkan berbagai karya kerajinan, sepatu dan juga makanan, minuman.
      Semarak FIS SMART dibuka oleh PR III Masrukhi ini merupakan singkatan dari F (Familiar), I (Inovatif), S (Sehat), S (Smart), M (Mandiri), A (amanat), R ( Religius) dan T (Tangguh). Semarak FIS SMART tahun ini  mengusung tema, “Hidup Selaras Dengan Alam Harmonisasi dalam Hubungan Sosial. ”Acara ini bertujuan agar warga FIS hidup selaras ramah terhadap lingkungan memberikan suasana dalam kehidupan dan tercapainya harmonisasi,” ungkap Eko Handoyo sebagai penanggung jawab serangkaian acara Semarak FIS SMART ini.
      Serangkaian acara Semarak FIS sudah dimulai sejak Kamis (9/6). Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya seminar nasional, panjat tebing sebagai inovasi baru, debat bahasa Jawa se-Unnes, tanam mangrove, FIS mencari bakat, Porsajur yang merupakan ajang perlombaan olah raga dan bazar yang berlangsung dua hari berbarengan dengan acara pembukaan Semarak FIS SMART. “Tahun ini lebih meriah karena ada doorprize seperti laptop, tv, setrika, dll,” terang Riki Kurniawan selaku ketua panitia.
       Lebih lanjut Riki menerangkan, kepanitian pelaksanaan Semarak FIS SMART berbeda dengan tahun lalu yang hanya berasal dari BEM. Namun tahun ini kepanitian meliputi perwakilan dari semua jurusan dan semua Lembaga Kemahasiswaan (LK) di FIS. “Semarak FIS SMART bukan hanya agenda BEM FIS semata tapi untuk seluruh masyarakat FIS,” lanjutnya menambahkan.
       Soleh selaku ketua panitia dari keseluruhan acara ini mengungkapkan bahwa program ini  memperkuat Unnes menjadi Universitas Konservasi serta bertujuan untuk menjalin harmonisasi antar civitas akademika dengan warga kampus dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan.
      Andre mahasiswa Pendidikan Sejarah 2010 memberi tangapan mengenai acara ini. “Acara ini cukup baik, semoga ke depannya dapat meriah lagi,” ungkapnya.
      Dari kalangan dosen juga menilai acara Semarak FIS SMART pada tahun ini cukup bagus, mengalami perubahan., ”Terutama perubahan waktu, biasanya akhir bulan Mei. Karena di bulan ini bersamaan dengan acara di fakultas-fakultas lain. Selain itu juga banyak stand dan kegiatan,” ungkap dosen Hkn Puji Lestari, ketika ditemui di pelataran samping C7.
       Lebih lanjut Riki, kendala yang dihadapi oleh panitia dalam acara Semarak FIS SMART kali ini juga masih dirasakan oleh panitia. Hal ini dikarenakan struktur kepanitiannya berbeda dengan tahun lalu yang diambil dari seluruh jurusan dan LK. Mereka mempunyai tanggung jawab lain di luar acara Semarak FIS SMART. Untuk mengatasi kendala tersebut kita lebih mendekatkan diri secara personal, saling memahami. Memberikan masukan-masukan akan pentingnya acara ini.Tina, Erwin, Yani, Novilla.

Mahasiswa.....

Oleh:Muhammad Haekal


MAHASISWA?
Hanya itukah ilmumu?
Belajar untuk melempar batu
Ditengah jembatan kau adu uratmu
Sesama saudara membunuh tanpa malu

Hanya itukah ilmumu?
Meneriakkan kata setia dengan jiwa
Namun melepasnya dalam sekejap mata
Dan lihatlah pendahulumu di'98
Mereka berdarah...berkorban
Tumbangkan rezim tegakkan reformasi

Dan lihat dirimu
Yang darahnya tertumpah sia-sia
Tanpa guna suatu apa...
Hanya derita dan jerit tanpa nyawa

Hai kau disana!!
Masihkah kau mengaku mahasiswa?!

Selasa, 19 Juli 2011

Bangun Keakraban Bareng Warga Sekaran

    Gugus Latih Ilmu Sosial mengadakan acara bakti lingkungan yang bertemakan “Bersih Desa Bersama Warga Sekaran dan Civitas Akademika FIS”, Minggu(26/6). Acara ini merupakan serangkaian acara Semarak FIS SMART. Noorochmat Isdaryanto selaku pembina pramuka FIS mengungkapkan bahwa program ini bertujuan agar warga FIS peduli terhadap lingkungan dan terjalin keakraban antara Civitas Akademika FIS dengan warga Sekaran.
   Rangkaian acara dibuka dengan penabuhan kentongan dan sambutan oleh Dekan FIS Subagyo, kemudian acara dilanjutkan dengan bersih-bersih desa. Peserta terdiri dari para pejabat FIS, lembaga kemahasiswan FIS, dan penerima beasiswa bidik misi serta tamu undangan dari guslat  lain yang dibagi menjadi dua tempat yaitu di Banaran dan Cempaka.
   “Dengan diadakan acara ini diharapkan dapat mempererat kerjasama antara Civitas Akademika FIS dengan Warga Sekaran dan dapat mengharmonisasikan serta menyeleraskan hubungan sosial masyarakat. Walaupun peserta tidak sesuai target namun acara ini dapat berjalan dengan lancar,” tutur Samsul Arifin selaku ketua panitia.Tina

Rabu, 13 Juli 2011

GERAKAN MORAL ANTI MONYONTEK

Ujian akhir semester  telah berlangsung sejak hari selasa, 12 juli 2011 dilingkungan Fakultas Ilmu Sosial. Hal ini merupakan momen puncak perjuangan setelah satu semester melakukan kegiatan perkuliahan. Banyak rutinitas yang dilakukan mahasiswa menjelang ujian akhir semesteran ini.  Baik belajar semalam suntuk atau pun berdoa agar nilai ujianya dapat maksimal.
Rutinnitas yang cukup berbeda terjadi di Jurusan HKn. Tatkala mahasiswa masuk keruangan kelas untuk mengikuti ujian akhir semester, mahasiswa langsung disambut dengan sepandu “GERAKAN MAHASISWA ANTI MENCONTEK’. Dimana sepanduk itu terletak didepan kelas setiap ruang ujian Jurusan HKn. Pembuatan sepanduk ini diprakarsai oleh Mahasiswa semester 4 dan 6 Jurusan HKn yang menempuh mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi.
Pemasangan sepanduk itu dilakukan atas kesadaran mahasiswa HKn.  Mereka sadar akan pentingnya meningkatkan moral pada setiap mahasiswa agar tidak lagi memiliki perilaku yang korupsi (menyontek).  Diharapkan dengan adanya pemasangan sepanduk ini dapat menmberi kesadaran pada maha siswa agar bersikap jujur dalam ujian  yakni dengan tidak mencontek diwaktu ujian. Penanganan perilaku korusi harus ditekankan sedini mungkin agar tidak menjadi sebuah kebiasaan.
Walaupun ada beberapa mahasiswa yang tidak menghiraukan akan isi tulisan yang terdapat dalam sepanduk tersebut, setidaknya ini merupakan bentuk konkret untuk mengajak mahasiswa berbuat jujur dan tidak sekedar omongan yang tidak ada tindak lanjut. Hal ini perlu kita apresiasi dan lestarikan agar kesadaran mahasiswa akan pentingnya berbuat jujur akan timbul. Tidak hanya menempuh jalan pintas saat ujian.

Slamet

Jumat, 24 Juni 2011

FIS TIDAK AKAN NGGANDHULI PKn

FIS TIDAK AKAN NGGANDHULI PKn
          Itulah salah satu pernyataan dari Dekan FIS untuk menjawab pertanyaan dari Arif, selaku Ketua HIMA Pkn tentang kejelasan PKn di FIS. Masalah kejelasan PKn akan hijrah ke FH memang mengundang banyak perhatian dari mahasiswa PKn. “PKn ke FH merupakan kebijakan tingkat nasional bukan kemauan Unnes, bukan maksud untuk mengkerdilkan PKn, hal itu juga untuk pengembangan kelembagaan dan memperkuat khasanah keilmuan”, ungkap Bapak Subagyo.
           Selain masalah tersebut ada juga pertanyaan-pertanyaan mengenai: dana KKL geografi (Untuk dana KKL geografi, dana SPL hanya mencakup KKL wilayah Semarang, selebihnya dana sendiri), biaya kuliah UNNES jalur SNMPTN yang lebih mahal dari Universitas lainnya (Unnes terlihat mahal di depan, selebihnya murah tidak seperti Perguruan Tinggi yang lain murah di depan tapi yang mahal-mahal di belakang tidak dimunculkan), mengenai adakah alokasi dana untuk mushola, hal tersebut akan dibicarakan dengan PD II, dll.
       DPM FIS pada hari Senin(13/6) menyelenggarakan diskusi terbuka yang bertajuk “Mahasiswa Bertanya, Birokrat Menjawab”. Acara tersebut cukup mendapat sambutan yang baik dari mahasiswa dan pejabat FIS. Dalam sambutannya PD III FIS, bapak Sunarko mengucapkan terima kasih kepada DPM, yang telah mengadakan pertemuan LK se-FIS dengan birokrat, karena sering terjadi mis komunikasi dari fakultas-mahasiswa sehingga sering timbul pertanyaan.
          Saat ditemui tim forjunis setelah pembukaan porsajur kemarin (13/6), bapak Subagyo memberikan tanggapan tentang diskusi terbuka yang diadakan DPM FIS bahwa sudah senang dengan diadakannya diskusi terbuka tersebut, namun masih ada hal-hal yang mungkin belum memberikan kepuasaan, masih belum ada titik temu dari mahasiswa dengan pimpinan fakultas, belum ada jalan keluar. “Boleh mengkritik, mengapresiasi tetapi bicarakan dulu dengan fakultas, jangan sampai menunjukan aib/kebobrokan kita di luar sana” imbuhnya.
          Menanggapi jalannya kegiatan itu, Arif Kristiyono mengungkapkan jawaban tentang pertanyaannya masalah prodi PKn, dia masih belum puas. “Normatif jawabane, golek aman”, ungkapnya. Dia juga memberikan saran kepada DPM FIS untuk lebih publikasi acara tersebut ke mahasiswa FIS secara luas karena kebanyakan yang datang dari LK bukan mahasiswa umum. Kalau bisa dibuat di luar ruangan saja agar bisa dilihat banyak orang. Novilla